RESIDEN TAQWA

“Nulis lagi doong, pleeesss”, begitu pinta ‘si manis’ lirih. Tatapan matanya hangat berharap.

“Nanti aja ahh… lagi sibuk-sibuknya.” Tolak saya halus menepis permintaannya.

Si manis hanya bisa cemberut. Dan saya hanya menghela nafas.

***

Perkenalkan residen taqwa, panggil saja begitu. Beberapa tahun lalu di dunia per-blog-an dikenal sebagai doktermudaliar. Sempat menulis beberapa artikel, yang dengan pedenya beberapa kumpulkan jadi buku. Belakangan, dengan terlepasnya gelar ‘muda’ dari doktermuda, blog itu juga ikutan meredup. Sang dokter kini mulai sibuk dengan hidup barunya. Dokter bujangan yang berangkat subuh pulang maghrib, habis itu nyambung jaga malam di rumah sakit. Ritme yang disenanginya. Meski bukan berarti dia larut dalam karirnya. Konon dia tetap aktif dalam dakwah, dan menurut beberapa oknum yang dekat dengannya, dia masih produktif menghasilkan karya, meski jarang dia unggah ke blog punyanya.

Perkenalkan pula, si manis.. bukan seekor kucing atau marmut peliharaan. Bukan, dia adalah artis baru yang mewarnai blantika kehidupan si residen taqwa. Bidadari yang baru saja berhasil dipinangnya bulan april lalu. Bidadari yang momen mendapatkannya menjadi salah satu pijakan penting dalam dekade-dekade perhelatan mimpinya kelak. Bidadari nyentrik yang dia lamar dengan seperangkat alat shalat, sebuah mushaf alqur’an, dan sebelas buah buku karangannya. Bidadari yang proses dari mengenal hingga ke jenjang pernikahan hanya memakan waktu satu bulan lebih dikit.

Ya, residen taqwa nggak lagi jomblowan. Dia kini sudah legal untuk menulis artikel bertemakan kasih sayang, keluarga yang sakinah dan sejenisnya. Dan tak lagi ada olok-olok, mana katanya yang mau nikah? Dan dia tak lagi menjawab dengan jawaban berkelit…. May… Maybe yes, maybe no…. tidak dia mampu menjawab di detik-detik menuju pernikahannya… May…. Ya may… insya Allah May….. dan Alhamdulillah, di May itu lah si jomblowan menyelenggarakan walimahnya.

Dan dua kebahagiaan direngkuh dalam May yang sempurna itu. Status barunya bukan hanya berubah menjadi “sang suami”. Namun berkah Allah sedang menghujani di hari-hari itu. Setelah proses yang rumit, dia akhirnya diterima menjadi peserta program pendidikan spesialis Jantung di sebuah universitas di Jawa Tengah. Sebuah mimpi yang pernah dia torehkan bukan lagi angan-angan kosong. Tapakan ke sana, jadi spesialis jantung kini di genggaman. Bismillah, dia tinggalkan kampung halamannya demi menyandang gelar barunya… sang residen.

Begitulah, semua proses terasa begitu singkat. Dari masih tinggal di Banjarmasin dengan gelar dokter bujang merangkap dosen tengil yang hobi meng-isengi mahasiswa-mahasiswanya. Harus berubah drastis, menata hidup baru mandiri di kota yang betul-betul asing baginya dengan gelar pengantin baru dan residen junior.

Dan residen junior bukanlah sebuah gelar yang membanggakan. Tumpukan tugas dari yang resmi sampai yang berbau perploncoan bukan sesuatu yang asing bagi residen junior manapun. berangkat jam lima pagi, pulang malam, atau bahkan besoknya, karena harus jaga malam adalah rutinitas, selain stressor-stressor yang lainnya.

………………….

“Tapi kaka harus tetap menulis…..” kata-kata itu lagi…. Beeehhhh… apakah kau nggak tahu manis, betapa melelahkannya kerjaan seorang residen, apalagi junior. Mana sempat untuk nulis-nulis….. blog yang dulu saja sudah nggak pernah lagi dikunjungi….

“Tapi….”

“nanti aja ya… kapan-kapan” selaku cepat, malas untuk memulai perdebatan.

Tatap matanya berkaca. Bisik hatinya bisa kubaca, bukankah salah satu simbol pernikahan kita adalah ‘buku’? mana ‘doktermudaliar’ ku yang dulu?

Tapi kau juga harus tahu lelahnya kehidupan residen, manisku….. , dalam bisunya kata, hati kami sejatinya sedang berdebat alot.

“Bukan…. Bukan permintaanku…. Tapi ini permintaan dia” akhirnya, ucap si manis. Telunjuknya menuju ke perutnya yang kini agak membuncit.

………………………….

Bless… dan hati si residen pun luluh.

Janin berusia empat bulan, yang kelak dicitakan menjadi anak sholeh pembebas kota Roma.

Wewww.. bentuk mengidam yang aneh, masa si janin ngidam tulisan babenya….!!

….

Dan akhirnya…

bismillahirrahmanirrahim

tepat 1 Muharram 1435 H, doktermudaliar menjelma kembali ke dunia pena, kini dengan nama baru, residentaqwa.

Nama yang semoga dicatat sebagai doa, semoga sang residen, sang suami, sang calon ayah…. Diberi kemuliaan kelak dengan sematan gelar oleh Allah rabbul Jalal sebagai: sang Taqwa.

Amiin.

Semarang, 1 Muharram 1435 H

7 thoughts on “RESIDEN TAQWA

  1. Dyah Sujiati says:

    Amin!

    Tetap kocak ya nulisnya? Haha

    Cheers ^_^
    DS

  2. Ika Wiguna says:

    Pagi dok, kira2 buku2 yg ada di blog sebelumnnya masih ada ga’ ya? saya mau pesan.

    trims, salam kenal.

    -ika-

  3. aya says:

    bang, minta tips masuk ppds jantung undip..
    thx

  4. Fifi says:

    Aaaamiiiin….
    Semoga janin d perut si Manis kelak menjadi sosok shalih/ah ‘uyyunul ummah…🙂

  5. Anis says:

    Assalamu’alaikum,
    Salam kenal residen taqwa calon ayah,
    semoga selalu diberi kekuatan Alloh di setiap langkah yang ditempuh.
    saking sibuknya sampai tahunnya kepleset 1 th.
    Wassalamu’alaikum.

  6. morigazi says:

    saya penggemar tulisan2 doktermudaliar, wah ternyata udah pindah kesini, tapi tentu tetap luar biasa…

  7. dimashmp says:

    Semoga selalu dipermudah ya ka.aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s